AHY dan Ibas Dinilai Taat Aturan, Pengamat: Stop Tuduhan Tak Berdasar

SUARA PAJAJARAN

- Redaksi

Selasa, 7 Juli 2026 - 00:49 WIB

5031 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA | Analis kebijakan publik dan sosial-politik nasional, Nasky Putra Tandjung, menilai penggiringan narasi dan opini liar, serta framing negatif yang disampaikan teman-teman DPP GHARIS yang mendeskreditkan kepemimpinan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) merupakan tudingan tidak berdasar, tidak objektif, dan tidak proporsional dalam menilai persoalan secara menyeluruh.

Menurutnya, Berbagai kritikan dan tudingan negatif yang diarahkan DPP GHARIS terhadap Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) harus disampaikan secara berimbang, objektif, kontruktif dan didasarkan pada fakta dan data terverifikasi serta yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Ia menegaskan, Seyogianya pejabat publik termasuk Mas AHY dan Ibas yang bekerja sesuai aturan perundangan-undangan yang berlaku, dan taat akan aturan hukum seharusnya didukung semua pihak.

Ia menekankan bahwa aparat birokrasi dan pejabat publik yang telah bertugas secara profesional dan objektif sesuai prosedur aturan sepatutnya mendapat apresiasi dan dukungan, bukan malah dilaporkan.

“Pentingnya memberikan dukungan penuh kepada pejabat atau aparatur negara yang menjalankan tugas secara profesional sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Alih-alih dilaporkan atas dasar ketidaksukaan, kinerja yang sesuai prosedur dan regulasi justru harus diapresiasi,” tegasnya.

Oleh karena itu, Ia menilai, narasi tersebut sarat tendensi politik dan upaya pembunuhan karakter secara terstruktur. “Perbedaan pendapat, politik merupakan bagian dari esensi berdemokrasi. Namun, penilaian terhadap seorang pejabat publik tidak seharusnya hanya melihat satu sisi, melainkan juga mempertimbangkan rekam jejak pengabdian, capaian, serta kepercayaan yang diberikan institusi negara secara komprehensif,” ujar Nasky dalam keterangannya, pada Senin (6/7/2026).

Justru sebaliknya, Pihaknya menantang DPP GHARIS untuk berani melaporkan pejabat publik sekelas Menteri yang saat ini lagi viral soal dugaan menerima amplop dari salah satu eks Bupati yang di OTT KPK. Tindakan ini memicu sorotan berbagai kalangan dan publik. Persoalan ini yang seharusnya kita kawal bersama sebagai penyelenggara negara, seharusnya Menteri tersebut langsung melaporkan dugaan gratifikasi tersebut kepada KPK, bukan mengembalikannya langsung kepada pihak pemberi,” terangnya.

Ajak Publik Lebih Bijak dan Rasional

Lebih lanjut, Alumnus INDEF School Of Political Economy Jakarta itu menegaskan, Bahwa setiap tuduhan dalam negara hukum harus dibuktikan, bukan dimanipulasi melalui framing dan opini liar di media sosial. Ia menyebut taktik semacam itu bukan hal baru. Dalam praktik global, dikenal istilah decapitation strategy, yaitu serangan terhadap tokoh-tokoh kunci yang menjadi fondasi kekuatan politik atau kebijakan publik.

“Jika kita menggunakan pendekatan public choice theory, serangan seperti ini bukan peristiwa netral. Ada aktor-aktor yang sedang berupaya menggeser peta kekuasaan dengan menyerang figur kunci dalam sistem,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam studi administrasi publik, kohesi politik dan stabilitas di arena pemerintahan adalah prasyarat keberhasilan implementasi kebijakan publik. Tanpa itu, pemerintah akan tersita oleh manuver politik yang melelahkan dan menjauhkan fokus dari pelayanan publik.

Menurutnya, serangan yang diarahkan kepada Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) harus dibaca sebagai bentuk pelemahan terhadap struktur pendukung pemerintahan. Secara tidak langsung, hal ini merupakan upaya sistematis menggoyang legitimasi program kerja pemerintah melalui jalur nonformal. “Dalam konsep policy sabotage, yaitu strategi aktor eksternal yang tidak mampu menyerang pusat kekuasaan secara langsung, sehingga menargetkan kredibilitas orang-orang terdekatnya,” kata Nasky.

Seruan Jaga Persatuan

Di akhir pernyataannya, Nasky mengajak seluruh pihak menjaga soliditas dan persatuan pemerintahan Presiden RI, Prabowo Subianto, sekaligus memastikan tokoh-tokoh penting mendapat dukungan publik.

Oleh karena itu, lanjutnya, Jangan sampai ruang publik dipenuhi narasi yang hanya menonjolkan satu perspektif. Masyarakat berhak memperoleh informasi yang utuh agar dapat menilai secara objektif. “Sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil (civil society), kita harus lebih cermat melihat fenomena seperti ini. Literasi publik harus ditingkatkan agar masyarakat tidak mudah termakan opini tanpa dasar empiris,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghormati mekanisme hukum dan pengawasan yang berlaku apabila terdapat dugaan pelanggaran. Menurutnya, penyelesaian setiap persoalan harus ditempuh melalui jalur yang sah, bukan melalui pembentukan opini yang dapat memecah kepercayaan publik terhadap institusi negara. Mari kita jaga fondasi pemerintahan yang tengah bekerja keras membangun negeri. Pemerintah membutuhkan tim yang solid, mitra politik yang loyal, dan tokoh-tokoh kuat sebagai penjaga perubahan.

“Kritik adalah hak setiap warga negara, tetapi keadilan juga mengharuskan setiap orang dinilai berdasarkan fakta, data, dan mekanisme yang berlaku. Mari kita menjaga ruang demokrasi yang sehat dengan mengedepankan objektivitas dan keseimbangan informasi. “Jangan biarkan satu demi satu wakil rakyat dihancurkan hanya karena kita lalai membaca taktik lawan. Demokrasi sejati hanya bisa berdiri di atas kebenaran, bukan fitnah yang dibungkus opini,” tutupnya. (RED)

Berita Terkait

Pemuda Rawajati Barat Merasa Tak Pernah Dilibatkan, Karang Taruna Rawajati Diminta Transparan Soal Kegiatan Program
Oknum N Kabur Usai Pungli, Kasatpel Pancoran Kebal Hukum – Pengamat : Dinas LH DKI Biarkan Sistem Pungli Berjalan Bebas
Tanpa SKRD, Pengemudi Gemor Sampah Setoran ke Oknum LH Dipo Pancoran Rp 100 ribu Modus Pungli Berkedok Retribusi
Bahu Jalan Disewakan PKL Rawajati Barat, Penertiban Setengah Hati – Pengamat : Pemprov DKI dan Pemkot Jaksel Lemah Atau Melindungi
Dari Sorotan Banjir hingga Desakan KPK, Warga Mulai Kritik Keras Pemerintahan Mualem
Petugas Tidak Tegas Tegakkan Perda, PKL Jualan di Bahu Jalan Rawajati Samping Kalibata City Menjamur
SWI dan UMJ Perkuat Tri Dharma, Wartawan Dilibatkan dalam Pendidikan dan Pengabdian
Prof DR Sutan Nasomal Menghimbau Semua Organisasi Pers Melaksanakan Sertifikasi Profesi Wartawan

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 00:16 WIB

Publik Desak Dinas Pendidikan Periksa Pengelolaan Dana BOS dan PIP di SDN 2 Biak Muli Secara Menyeluruh

Senin, 6 Juli 2026 - 13:50 WIB

Grasstrack Kapolres Agara Sukses Digelar, Semangat Bhayangkara dan Prestasi Berpacu di Sirkuit IMI Aceh Tenggara

Minggu, 5 Juli 2026 - 00:05 WIB

Gaungkan Sportivitas di Hari Bhayangkara ke-80, Kapolres Aceh Tenggara Resmi Buka Kejuaraan Grasstrack 2026

Sabtu, 4 Juli 2026 - 00:15 WIB

Pelukan Terakhir di Bumi Sepakat Segenep, Kapolres Aceh Tenggara Berpamitan kepada Purnawirawan

Kamis, 2 Juli 2026 - 18:18 WIB

Pengabdian yang Tulus Selalu Meninggalkan Jejak, Kapolres Aceh Tenggara Pimpin Pemusnahan 161,9 Kilogram Ganja

Kamis, 2 Juli 2026 - 15:07 WIB

Aksi Curat Berakhir di Tangan URC Sat Reskrim Polres Agara, Dua Pelaku Berhasil Dibekuk

Kamis, 2 Juli 2026 - 13:40 WIB

80 Tahun Mengabdi Polri Untuk Masyarakat, Hari Bhayangkara ke-80 di Polres Tenggara Berlangsung Khidmat

Selasa, 30 Juni 2026 - 13:29 WIB

Hari Bhayangkara ke-80, Lomba Menembak di Aceh Tenggara Pererat Sinergi TNI-Polri, Forkopimda, dan Masyarakat

Berita Terbaru

Bandung

DPRD Kota Bandung Tetapkan Perda Bank Perekonomian Rakyat

Sabtu, 31 Okt 2026 - 14:25 WIB