Diamnya Pejabat KBB Jadi Sorotan: Temuan BPK Ungkap Dugaan Kerugian Negara

Redaksi Jabar

- Redaksi

Rabu, 17 Juni 2026 - 21:56 WIB

50180 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandung Barat,Suarapajajaran.online – Indikasi kebocoran anggaran dalam skala besar di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) kian mengemuka. Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Tahun Anggaran 2024, ditemukan sejumlah kejanggalan signifikan yang mengarah pada kelebihan pembayaran hingga miliaran rupiah di berbagai perangkat daerah.

Temuan bernomor 21.A/LHP/XVIII.BDG/05/2025 tersebut mengungkap pola berulang berupa kelebihan bayar proyek, honorarium yang tidak sesuai ketentuan, hingga pengelolaan dana desa yang belum dapat dipertanggungjawabkan secara memadai.

Ironisnya, saat upaya konfirmasi dilakukan, sejumlah pejabat terkait justru memilih bungkam. Sikap tidak kooperatif ini memunculkan pertanyaan serius mengenai komitmen transparansi di tubuh birokrasi KBB.

Sorotan terbesar tertuju pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). BPK mencatat kelebihan pembayaran pada 12 paket proyek infrastruktur—meliputi jalan, irigasi, dan jaringan—dengan nilai mencapai lebih dari Rp4,3 miliar. Kelebihan bayar ini diduga kuat terjadi akibat pekerjaan yang tidak sesuai dengan kontrak.

Tak hanya itu, temuan juga merambah ke lingkup sekretariat daerah. Kelebihan pembayaran honorarium kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), narasumber, dan moderator tercatat melampaui Rp510 juta. Di Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD), ditemukan kelebihan pembayaran gaji dan tunjangan PNS sebesar Rp417 juta, disertai tata kelola aset tanah yang dinilai belum tertib.

Sektor pendidikan pun tak luput dari catatan merah. Dinas Pendidikan KBB disebut mengalami kelebihan bayar sekitar Rp108 juta pada sejumlah proyek pemeliharaan gedung sekolah, akibat lemahnya pengawasan terhadap volume pekerjaan di lapangan.

Lebih jauh, lemahnya pengawasan juga terlihat di tingkat desa. Sebanyak 68 desa dilaporkan belum menyampaikan laporan pertanggungjawaban penggunaan bantuan keuangan, mempertegas adanya celah serius dalam sistem pengendalian internal.

Situasi ini diperparah oleh minimnya respons dari pejabat terkait, termasuk Inspektorat sebagai aparat pengawas internal. Kondisi tersebut menimbulkan spekulasi publik: apakah kelebihan pembayaran tersebut telah dikembalikan ke kas daerah, atau justru berpotensi menjadi kerugian negara yang dibiarkan?

Dari perspektif hukum, kewajiban pengembalian kerugian negara telah diatur tegas. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004, setiap pejabat wajib menindaklanjuti rekomendasi BPK dalam waktu maksimal 60 hari. Kegagalan memenuhi kewajiban ini dapat membuka ruang bagi penegakan hukum pidana, termasuk dugaan tindak pidana korupsi.

Aparat penegak hukum memiliki kewenangan untuk menelusuri lebih lanjut apabila ditemukan indikasi unsur kesengajaan atau pembiaran. Hal ini termasuk dugaan penggelapan maupun penyalahgunaan kewenangan yang merugikan keuangan negara.

Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan publik. Temuan BPK ini bukan sekadar catatan administratif, melainkan alarm serius bagi tata kelola pemerintahan di Bandung Barat.
Publik kini menanti langkah konkret dari pimpinan daerah, Inspektorat, serta aparat penegak hukum untuk memastikan setiap rupiah uang negara dipertanggungjawabkan. Tanpa tindakan tegas, temuan ini berisiko menjadi preseden buruk yang terus berulang.

( Redaksi )

Berita Terkait

UKW SWI Kalsel Resmi Dibuka, Puluhan Wartawan Didorong Tingkatkan Profesionalisme
HIPKA Jawa Barat Lantik 17 BPD Kabupaten/Kota, Perkuat Jaringan Pengusaha dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah
BPKS dan ASPRINDO Sepakat Kembangkan Pelabuhan Sabang Menuju Green Port
HOAX! Kalapas Labuhan Ruku Tegaskan Isu RZ Kelola Narkoba di Dalam Lapas Tidak Benar, Lapas Labuhan Ruku Zero Narkoba
XTC 04 SOEMBER Ajak Anggota Tebar Kepedulian Sosial, Bangun Kedekatan dengan Masyarakat
Humas PMJ Diduga Minta Berita Dugaan Perampasan HP Wartawan Dihapus, Publik Tanya Komitmen Transparansi Polri
BAM DPR Minta BNI Buka Terang, Sengketa Belasan Miliar Bikin Publik Bertanya
Pungutan Retribusi Sampah Swadaya Warga Jutaan, Kasatpel Dipo Pesanggrahan Bertemu Tim Media Justru Didampingi Oknum Wartawan

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:19 WIB

Pembukaan TMMD ke-130 TA 2026, Kodim 0113/Gayo Lues Salurkan Bantuan Sembako kepada Warakawuri dan Masyarakat Kurang Mampu

Minggu, 19 Juli 2026 - 16:31 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Ungkap Kasus Narkotika Ganja, Seorang Perempuan Diamankan

Rabu, 1 Juli 2026 - 20:47 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Ringkus Dua Pelaku Penyalahgunaan Sabu, Pemasok Masih Diburu

Rabu, 1 Juli 2026 - 19:21 WIB

Hari Bhayangkara Ke-80, Kapolres Gayo Lues: Tingkatkan Pelayanan Terbaik Kepada Masyarakat

Senin, 8 Juni 2026 - 17:04 WIB

Brimob Aceh dan Masyarakat Bersatu Wujudkan Lingkungan (ASRI) Di Gayo Lues

Sabtu, 6 Juni 2026 - 02:28 WIB

PT Hopson Diduga Abaikan Larangan, Mabes Polri dan Polda Aceh Diminta Ambil Langkah Tegas

Kamis, 4 Juni 2026 - 00:40 WIB

Cuaca Pancaroba Sangat Panas, Kapolres Gayo Lues Imbau Warga Waspada Karhutla

Kamis, 4 Juni 2026 - 00:23 WIB

Tim URC Satreskrim Polres Gayo Lues Berhasil Amankan Mobil L300 Hasil Curanmor di Aceh Tenggara

Berita Terbaru